Author: Ayu Prabasari Dharmajayanti, S.Psi.
Kita sering membayangkan kesehatan mental dan kesehatan fisik sebagai dua hal yang berbeda.
Kita bisa segera datang ke dokter ketika merasa demam, batuk atau pilek.
Kita segera beristirahat ketika dirasa badan pegal atau Lelah
Namun ketika hati dan pikiran terasa berat, cemas, atau kosong dalam waktu berkepanjangan, kita justru sering memilih untuk mengabaikannya. Padahal, tubuh kita ibarat sistem yang terintegrasi satu sama lain, ketika fisik kita tidak dalam kondisi yang fit—pikiran kita juga tidak dapat optimal dan perasaan tidak karuan, begitu sebaliknya.
Jika kamu masih berpikir bahwa kesehatan mental tidak lebih penting daripada kesehatan fisik, coba ingat kembali momen ketika kamu merasa gugup atau cemas :
Apakah napas terasa lebih cepat?
Pernahkan merasa terdapat gerakan dalam perut yang mendorong rasa mual atau mulas?
Apakah tubuhmu ikut berkeringat?
Respons ini bukan kebetulan. Dalam kajian mind–body connection, emosi yang dapat muncul dalam bentuk sensasi fisik (American Psychological Association, 2020). Stres yang berkepanjangan bahkan dapat memengaruhi sistem saraf, pencernaan, dan sistem imun (McEwen, 2017). Artinya, ketika kita tidak memberi ruang pada emosi, tubuhlah yang akan mencoba “mengungkapkannya” dengan caranya sendiri.
Di sinilah pentingnya mengekspresikan emosi. Bukan berarti cengeng, lemah, ataupun dramatis tetapi untuk belajar menyadar apa yang tubuh ingin kita sampaikan. Hal ini karena emosi adalah reaksi kompleks dari pikiran dan tubuh terhadap situasi tertentu yang dianggap penting oleh individu. Setiap emosi dasar membawa pesan atau arti tertentu tentang bagaimana kita merespons lingkungan kita Berikut adalah arti dari berbagai jenis emosi dasar menurut psikologi:
1. Marah
Marah adalah respon emosional kuat terhadap ancaman, ketidakadilan, atau pelanggaran nilai-nilai.
- Artinya: Ada sesuatu yang tidak seharusnya (melanggar standar/keinginan), frustrasi, ancaman, atau ada kebutuhan yang terhalang.
- Fungsi: Memotivasi diri untuk mengatasi hambatan atau melindungi diri.
2. Sedih
Sedih adalah emosi dasar yang muncul sebagai reaksi normal terhadap stres atau kehilangan.
- Artinya: Adanya rasa kehilangan, duka cita, kekecewaan, atau ketidakberdayaan.
- Fungsi: Memproses kehilangan dan sering kali mendorong diri untuk menarik diri sejenak atau mencari dukungan sosial.
3. Takut
Takut adalah emosi dasar yang muncul ketika mengantisipasi bahaya atau ancaman, baik fisik maupun psikologis.
- Artinya: Adanya potensi bahaya, ketidakamanan, atau situasi yang mengancam keselamatan.
- Fungsi: Mekanisme bertahan hidup agar kita lebih waspada dan berhati-hati.
4. Senang/Bahagia
Senang adalah emosi positif yang muncul saat mendapatkan apa yang diinginkan atau mengalami peristiwa menyenangkan.
- Artinya: Adanya kepuasan, kenyamanan, dan rasa aman pada pengalaman yang sedang dijalani.
- Fungsi: Mempererat hubungan sosial dan meningkatkan kreativitas.
5. Jijik (Disgust)
Jijik adalah reaksi emosional terhadap sesuatu yang dianggap menjijikkan, kotor, atau tidak sehat.
- Artinya: Ada sesuatu yang berpotensi meracuni atau tidak patut (secara fisik atau moral).
- Fungsi: Melindungi diri dari bahaya fisik (penyakit) atau pelanggaran sosial.
6. Terkejut (Surprise)
Terkejut adalah emosi yang berlangsung dalam durasi tersingkat, terjadi saat ada hal tak terduga.
- Artinya: Ada peristiwa baru yang muncul tiba-tiba.
- Fungsi: Memusatkan perhatian pada kejadian tersebut untuk menilai apakah itu positif atau negatif.
Secara keseluruhan, emosi bukanlah sesuatu yang harus dipendam, melainkan perlu dipahami dan dikelola agar kita bisa merespons situasi dengan lebih baik (regulasi emosi) dan salah satu cara untuk meregulasi emosi adalah dengan belajar mengekspresikannya. Ekspresi emosi tidak selalu melalui hal-hal besar. Justru, harus dilakukan melalui langkah kecil yang berkelanjutan.
Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkankesadaran terhadap emosi sehingga dapat membantu menurunkan intensitas stres (Gross, 2015) :
– Duduk dengan perasaan lebih lama dengan perasaan. Rasakan intensitasnya, apakah ada sensasi yang juga terasa dalam tubuh? Tanyakan pada diri apa yang ingin disampaikan. Jika hal tersebut telah dilakukan, beri nama. (“Aku sedang cemas hari ini”),
– Tuangkan perasaan atau pikiran itu melalui menulis jurnal tanpa tuntutan harus rapi.
– Mengambil jeda untuk merasakan napas
– Berbicara dengan orang yang dipercaya
Manfaatnya:
– Mengurangi ketegangan fisik
– Membantu regulasi sistem saraf
– Meningkatkan self-awareness
– Mencegah akumulasi stres
– Mendukung relasi yang lebih terbuka
Belajar memahami emosi adalah proses, dan ketika emosi diberi ruang, tubuh tidak perlu lagi menanggung semuanya sendirian.
Jika Anda ingin memahami lebih dalam bagaimana mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat, memiliki ruang untuk berdiskusi bisa menjadi langkah awal. Kami menyediakan ruang tersebut bagi Anda yang ingin mulai mendengarkan diri sendiri dengan lebih utuh.
Referensi:
American Psychological Association. (2020). Stress effects on the body. https://www.apa.org/topics/stress/body
Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.1080/1047840X.2014.940781
McEwen, B. S. (2017). Neurobiological and systemic effects of chronic stress. Chronic Stress, 1, 1–11. https://doi.org/10.1177/2470547017692328
Keyword; kesehatan mental dan fisik, ekspresi emosi, hubungan pikiran dan tubuh, regulasi emosi, tanda stres pada tubuh