Author: Ayu Prabasari Dharmajayanti, S.Psi.
Sering kali, masalah dalam hubungan bukan muncul karena kurangnya rasa sayang, tetapi karena cara menyampaikan perasaan yang tidak benar-benar tersampaikan.
Kita mungkin ingin dipahami, tetapi yang keluar justru nada defensif.
Kita ingin didengar, tetapi kalimat yang muncul terdengar seperti kritik.
Dan tanpa disadari, percakapan berubah menjadi saling menyalahkan, bukan saling memahami.
“Kamu tuh nggak pernah mengerti aku,”
Padahal arti sebenarnya bisa saja,
“Aku pengen loh kamu lebih dengerin aku.”
Namun karena emosi muncul bersamaan dengan rasa kecewa, lelah, atau takut, pesan tersebut akhirnya tersampaikan dalam bentuk kemarahan atau penarikan diri. Dalam teori Emotionally Focused Therapy (EFT), Johnson (2004) menjelaskan bahwa konflik pasangan sering kali bukan hanya tentang masalah sehari-hari, tetapi tentang kebutuhan emosional yang tidak tersampaikan. Ketika seseorang merasa tidak aman secara emosional, mereka cenderung masuk ke pola komunikasi defensif—menyerang, diam, menghindar, atau menarik diri. Sementara itu, Gottman dan Silver (2015) menemukan bahwa kualitas komunikasi memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas hubungan jangka panjang. Cara pasangan merespons emosi satu sama lain, bahkan dalam percakapan kecil sehari-hari, dapat menentukan apakah hubungan terasa aman atau justru melelahkan.
Penelitian menunjukkan komunikasi defensif memperbesar jarak emosional (Johnson, 2004), sementara komunikasi empatik memperkuat keterikatan (Gottman & Silver, 2015).
Karena itu, komunikasi sehat bukan berarti tidak pernah bertengkar. Komunikasi sehat adalah kemampuan untuk tetap mencoba memahami, bahkan ketika sedang berbeda pendapat. Ini juga berarti belajar mengenali bahwa di balik kemarahan, sering kali ada emosi lain yang lebih rentan:
- rasa takut ditinggalkan,
- rasa tidak dihargai,
- rasa lelah,
- atau kebutuhan untuk merasa diprioritaskan.
Sayangnya, banyak orang tumbuh tanpa benar-benar belajar bagaimana mengomunikasikan emosi secara sehat. Kita lebih sering diajarkan untuk “mengalah”, atau “jangan terlalu sensitif”, dibanding memahami bagaimana menyampaikan kebutuhan emosional dengan jelas.
Akibatnya, konflik sering berubah menjadi pola yang berulang.
Satu pihak merasa tidak didengar.
Pihak lain merasa selalu disalahkan.
Lalu keduanya sama-sama merasa lelah.
Komunikasi sehat adalah keterampilan yang bisa dilatih. Berikut adalah langkah praktis yang bisa dicoba:
– Gunakan “I statement”
Ketimbang menyalahkan pasangan terus menerus “Kamu tuh gini, gitu,” coba diganti dengan “Aku merasa…”
– Dengarkan tanpa menyela
Beri pasangan ruang untuk menyampaikan pikiran dan emosi mereka sampai tuntas, sebelum memulai diskusi untuk memberi jeda terutama saat emosi sedang berada pada intensitas yang tinggi.
Manfaat:
– Meningkatkan rasa aman
– Mengurangi konflik
– Memperkuat koneksi
– Meningkatkan kualitas hubungan
Karena hubungan tidak butuh kesempurnaan, tetapi kemauan untuk memahami.
Jika Anda ingin memahami lebih dalam cara membangun komunikasi yang lebih sehat dalam hubungan, Dian Selaras dan Hipnoterapi menyediakan layanan untuk pasangan yang dapat menemani Anda dan pasangan dalam berdiskusi yang sehat. Diskusi yang konstruktif akan membantu Anda dan Pasangan menemukan pendekatan yang lebih sesuai untuk preferensi kalian. Karena tiap pasangan layak mendapatkan perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya.
Referensi:
Gottman, J. M., & Silver, N. (2015). The seven principles for making marriage work: A practical guide from the country’s foremost relationship expert (Revised ed.). Harmony Books.
Johnson, S. M. (2004). The practice of emotionally focused couple therapy: Creating connection (2nd ed.). Brunner-Routledge.