Author : Ayu Prabasari Dharmajayanti, S.Psi
Menangis masih sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Kebanyakan dari kita tumbuh di lingkungan yang punya kecenderungan mengajarkan individu untuk selalu terlihat ‘kuat’, ‘angan terlalu sensitif’, atau ‘ya sudahlah’. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa bersalah ketika menangis, terutama saat berada di depan orang lain.
Padahal, menangis adalah respons manusia yang alami tidak hanya secara emosional, tetapi juga biologis.
Gračanin et al (2014) menjelaskan bahwa menangis dapat membantu proses regulasi suasana hati dan menurunkan tekanan emosional melalui mekanisme fisiologis maupun psikologis. Menangis disebutkan berperan dalam proses pemulihan emosional dan regulasi stres.
Artinya, tangisan bukan tanda seseorang ‘lemah’ atau ‘tidak mampu menghadapi masalah’. Dalam beberapa situasi, tangisan justru menjadi cara tubuh membantu kita memproses pengalaman emosional yang overwhelmed untuk ditahan sendiri.
Coba ingat kembali momen ketika Anda akhirnya menangis setelah sekian lama menahan emosi, tekanan ataupun pikiran Anda. Sering kali, sebelum tangisan muncul, tubuh sudah lebih dulu memberikan sinyal melalui :
- dada terasa sesak,
- tenggorokan terasa berat,
- napas menjadi pendek,
- atau kepala terasa penuh.
Saat emosi terus diabaikan, sistem saraf juga ikut menegang. Menangis dapat membantu tubuh perlahan kembali menuju keadaan yang lebih tenang atau yang dalam penelitian sebelumnya disebut sebagai langkah self-soothing. Menangis berkaitan dengan aktivasi sistem parasimpatis—bagian dari sistem saraf yang membantu tubuh kembali rileks setelah stres. Newhouse (2021) juga menjelaskan bahwa menangis dapat berkaitan dengan pelepasan oksitosin dan endorfin, yaitu zat kimia alami tubuh yang membantu meredakan ketegangan emosional dan memberikan rasa lega. Oleh karena itu, mungkin kita perlu mulai melihat menangis dari sudut pandang yang berbeda.
Menangis bukan selalu tanda bahwa seseorang lemah, sensitif atau tidak memiliki kendali atas tubuhnya
Kadang, itu adalah tanda bahwa tubuh sedang mencoba menjaga keseimbangan.
Tentu, menangis bukan satu-satunya cara memproses emosi. Namun ketika tangisan datang, mungkin kita tidak perlu buru-buru menghentikannya atau merasa malu karenanya.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan ketika dorongan menangis muncul:
- Memberi izin pada diri sendiri untuk merasakan emosi tanpa langsung menghakimi.
- Memperhatikan sensasi tubuh, seperti napas atau ketegangan pada dada.
- Mencari ruang yang aman dan nyaman untuk menenangkan diri.
- Menulis atau merefleksikan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
- Berbicara dengan seseorang yang dipercaya jika emosi terasa terlalu berat ditanggung sendiri.
Memberi ruang pada tangisan dapat membantu:
- melepaskan ketegangan emosional,
- mendukung regulasi sistem saraf,
- membantu seseorang lebih memahami emosinya,
- mengurangi tekanan yang dipendam terlalu lama,
- dan membantu tubuh kembali ke kondisi yang lebih tenang.
Karena pada akhirnya, tubuh dan emosi adalah satu kesatuan yang sama pentingnya untuk dijaga kesehatannya.
Tangisan adalah cara tubuh berkata:
“Aku sudah terlalu lama menahan semuanya.”
Jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang cara mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi secara sehat, Dian Selaras menyediakan ruang aman untuk berdiskusi. Anda dapat terhubung dengan kami melalui website atau Instagram Dian Selaras untuk mengetahui layanan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Kesejahteraan Anda, adalah harapan kami…
Salam Pikiran…Hati…SUKSES!
Gračanin, A., Bylsma, L. M., & Vingerhoets, A. J. J. M. (2014). Is crying a self-soothing behavior? Frontiers in Psychology, 5, Article 502. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.00502
Harvard Health Publishing. (2021, March 1). Is crying good for you? https://www.health.harvard.edu/blog/is-crying-good-for-you-2021030122020